LETAK geografis Indonesia merupakan anugerah dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Terdapat ribuan pulau dengan keanekaragaman hayati. Terdapat banyak spesies hewan endemik dengan keunikannya masing-masing. Setiap pulau di Indonesia memiliki jenis satwa khas dengan keunikan dan ciri tertentu, misalnya di pulau Sulawesi bagian Utara (Sulut).
Berikut adalah empat satwa endemik Sulut dengan pesonanya masing-masing yang menarik untuk diketahui.
- Tarsius (Tarsius tarsier)
Tarsius adalah primata terkecil di dunia yang beratnya hanya sekitar 110-120 gram dan panjang tubuhnya sekitar 11 hingga 12 cm sementara panjang ekornya antara 13,5 sampai 27,5 cm. Tarsius adalah satwa nokturnal yang aktif pada malam hari dan menjadi lebih pasif di siang hari. Tarsius memiliki sifat monogami ,ia adalah hewan yang setia karena hanya memilih satu pasangan. Ketika pasangannya mati, ia akan membujang seumur hidup. Hal ini disinyalir turut berkontribusi terhadap kelangkaan tarsius. Selain sifat monogaminya, maraknya perburuan tarsius telah menyebabkan populasi hewan ini makin langka. Karena itu, primata ini termasuk hewan yang dilindungi oleh undang-undang karena rentan punah. Tarsius dapat ditemui di Suaka Margasatwa Tandurusa dan Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Kota Bitung.
- Yaki (Macaca nigra)
Masih masuk ke dalam golongan primata, hewan berikutnya khas dari Taman Nasional Tangkoko, Bitung adalah Yaki. Yaki atau Monyet wolai atau Monyet hitam Sulawesi merupakan jenis monyet makaka terbesar yang ada di Pulau Sulawesi. Tingginya sekitar 44 sampai 60 cm dengan berat badan sekitar 7 sampai 15 kg. Seluruh tubuhnya berwarna hitam pekat dan memiliki rambut berbentuk jambul di atas kepalanya, serta memiliki pantat berwarna merah muda. Oleh sebab itu hewan ini memiliki nama ilmiah Macaca nigra, yang berarti monyet hitam. Namun sayang, status konservasi hewan ini masuk ke dalam golongan terancam punah akibat perburuan.
- Serak Sulawesi (Tyto rosenbergii)
Serak Sulawesi merupakan jenis burung hantu yang memiliki ukuran tubuh besar. Panjang tubuh dewasanya mencapai 43 cm hingga 46 cm dengan warna bulu bagian atas cokelat abu-abu gelap dan bagian bawah memiliki bintik-bintik kehitaman. Burung ini memiliki lempeng muka putih sedikit gelap dengan tepian hitam, serta memiliki ekor berpalang tebal. Habitat burung hantu serak sulawesi adalah di sekitaran tepian hutan, perkebunan kelapa, hingga ke kawasan pedesaan dengan ketinggian mencapai 1200 m di atas permukaan laut. Status konservasinya belum begitu terancam dan masih mudah ditemukan di alam. Burung ini endemik ini juga bisa dijumpai di Taman Nasional Tangkoko, Bitung.
- Anoa (Bubalus sp.)
Anoa atau kerbau kenit adalah kerbau endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton merupakan mamalia yang tergolong dalam famili bovidae. Salah satu hewan khas Sulawesi Utara ini sekilas seperti kerbau atau banteng namun ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dan kulitnya berwarna gelap kecokelatan. Banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kerdil, kerbau mini atau kerbau cebol. Dikarenakan perubahan fungsi lahan dan berbagai perubahan kondisi alam serta maraknya perburuan, populasi Anoa terus menurun dan hanya bisa dijumpai sekitar di hutan-hutan di Bolaang Mongondow. (Laya Dewi)