๐๐ก๐๐: ๐๐ง๐๐ฃ๐ก๐ฎ ๐ฝ๐๐ก๐๐๐๐ฌ๐*
Luqman merupakan sosok yang secara khusus namanya dicantumkan dalam Alquran. Dalam Alquran diceritakan secara khusus bagaimana Luqman mendidik anaknya. Suatu ketika Luqman bermaksud untuk mengajarinya tentang gambaran kehidupan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Luqman membawa akuariumnya.
Luqman yang mengendarai memboceng anaknya, setelah tibah di kepadatan, orang-orang yang melihat mulai nyinyirin mereka โDasar bapak sama anak bodoh! Sudah tahu isinya kecil, dinaikin juga!โ
Keesokan harinya Luqman kembali mengajak anaknya, kali ini anaknya dibiarkan naik di atas dan Luqman berjalan kaki, orang yang melihat pun kembali menyinyiri mereka โDasar anak durhaka! Dia membangkitkan bapaknya jalan kaki!โ.
Besoknya lagi Luqman kembali mengajak anaknya, kali ini Luqman naik untuk membesarkan dan anaknya berjalan kaki, meski begitu tetap saja dinyinyirin โDasar orang tua tidak punya hati! Kok anaknya di biarkan jalan sendiri!โ.
Terakhir Luqman dan anaknya bersepakat untuk berjalan tanpa menaiki podium, dan tetap saja di nyinyirin โAnak dan Bapak otak miring, ada berlutut tidak dimanfaakanโ.
Dari kisah Luqman ini, kita bisa memahami keadaan di tengah masyarakat, di antara masyrakat yang baik tetap saja ada masyrakat yang sama lakunya dengan kisah Luqman ini.
๐๐ฎ๐๐ฒ๐ฟ๐ ๐ฃ๐ผ๐น๐ถ๐๐ถ๐ธ ๐ข๐บ ๐๐๐บ๐ถ๐
Haters Politik Om Kumis adalah, sekelompok orang yang karena kepentingan politik, menebarkan rasa benci kepada Om Kumis (Nama Panggilan Ir. Maurits Mantiri, MM), pejabat Walikota Bitung.
Haters Politik Om Kumis terdiri dari:
Pertama; kelompok pendukung lawan politik Om Kumis pada Pilkada 2019.
Kedua; pendukung Om Kumis yang kepentingan pribadinya tidak indahkan Om Kumis (karena bertentangan dengan kepentingan banyak orang).
Ketiga; pendukung Om Kumis yang sempat menduduki suatu jabatan publik, kemudian dihentikan atau dihentikan dengan alasan tertentu.
Mereka bergerak di media sosial (seperti facebook), menyebarkan narasi negatif dengan tujuan agar pengguna media sosial yang berdomisili di Kota Bitung mempengaruhi, dan menjadi antipati dengan Om Kumis.
Salah satu kalimat awal yang biasa disampaikan king maker para haters politik Om Kumis adalah “Suara rakyat, dan menyusul kalimat berikutnya” seakan – akan mereka mewakili aspirasi masyarakat. Realitasnya tidak ada bukti autentik perihal orang – orang yang mempercayakan aspirasinya kepada mereka (seperti mengarang cerita saja).
Bagaikan dalam kisah Luqman dan anaknya, apapun yang dilakukan Om Kumis tidak ada nilainya bagi mereka. Prestasi Om Kumis tidak dianggap, kebijakan yang berdampak pada kehidupan masyarakat tidak dianggap, semua yang baik dari Om Kumis bagi mereka tidak pernah ada.
Mereka tidak berasumsi bahwa ada Om Kumis yang membagikan daging gratis kepada masyarakat.
Mereka tidak berasumsi bahwa ada Om Kumis yang menyediakan pasar murah untuk masyarakat.
Mereka tidak berasumsi bahwa ada Om Kumis yang mengintervensi perusahaan di Kota Bitung untuk menyediakan pekerjaan bagi masyarakat.
Mereka tidak menyangka bahwa ada Om Kumis yang menyediakan ruang dan fasilitas untuk UMKM.
Mereka tidak menyangka bahwa ada Om Kumis yang sangat terbuka dengan aspirasi masyarakat lewat ruang sepakat.
Mereka tidak menyangka bahwa ada Om Kumis yang mencontohkan sikap toleransi dan moderasi umat beragama untuk mempererat persatuan umat beragama.
Mereka tidak berasumsi bahwa ada Om Kumis yang selalu meringankan beban masyarakat yang tertimpa bencana.
Semua yang baik dari apa yang dilakukan Om Kumis dalam memimpin Pemerintahan Kota Bitung selalu dianggap tidak ada.
Kenapa demikian? Jika kita berkaca dari tiga identitas pembenci politik Om Kumis yang saya sebutkan diatas, dapat disimpulkan bahwa mereka seperti itu, karena adanya kebencian akibat kepentingan pribadi mereka tidak mereka capai, juga adanya syahwat politik untuk mendorong Calon Walikota yang nantinya mereka suksesi demi membalas dendam politik mereka .
๐ฆ๐ผ๐น๐๐๐ถ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ถ๐๐ฎ๐ต ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ธ ๐ง๐๐น๐ถ
Kisah Luqman dan fenomena haters politik Om Kumis ini menjadi pelajaran untuk masyarakat. Sosok alim seperti Luqman, dan Walikota yang mengedepankan paradigma melayani dengan cinta, serta mendorong terciptanya kebersamaan dalam membangun Kota Bitung masih ada haters yang berusaha menebar kebencian. Lalu bagaimana dengan kita?
Sebagai solusi untuk menghadapi haters dalam kehidupan kita, mari kita belajar dari kisah kata tuli.
Suatu ketika, ada 2 ekor Katak yang terjebak jatuh ke dalam lubang yang di dalam.
Katak kedua ini mencoba keluar dari lubang yang dalam. Mereka terus melompat.
Aktivitas mereka ini disaksikan oleh kata – kata yang lain yang berada di atas lubang.
Setelah beberapa menit mereka melompat, kata – kata yang lain mulai berteriak menghasut mereka, “jangan usah memaksa, kalian tidak akan mampu melompat ke atas, kalian tidak akan kuat!”. Akhirnya salah satu kata berhenti melompat.
Sedangkan katak yang satunya lagi, terus melompat, dan tidak menghiraukan ucapan katak yang ada di atas lubang.
Akhirnya katak yang berhenti melompat mati kelaparan di dalam lubang, sementara katak yang terus melompat bisa lolos dari lubang yang ada.
Sesampainya katak yang lolos dari lubang, dia ditanya oleh sekawanan katak yang lainnya. “Bagaimana kamu bisa lolos dari lubang yang di dalamnya?” Menariknya, katak yang lolos dari lubang ini menjawab dengan balik bertanya. “Apa yang kalian ucapkan”.
Akhirnya kawanan katak ini menyadari bahwa, katak satu ini tidak mendengar hasutan mereka karena dia tuli.
Dari kisah katak tuli ini, kita bisa memahami bahwa solusi menghadapi para haters yang tidak menginginkan kebaikan dalam kehidupan kita, yang berusaha untuk menjatuhkan atau mencakup kita adalah dengan cara:
Pertama: kita menutup telinga kita, tidak perlu risaukan, dan tidak perlu menggapi.
Kedua: kita fokus saja pada tujuan kita, terus berkarya, terus bekerja, dan terus melangkah maju ke depan.
( *** )
* Kader Pemuda Muhammadiyah, Aktivis dan Pemerhati Politik