Maurits Mantiri, Sang Humanis dari Kota Bitung

𝙊𝙡𝙚𝙝: 𝙍𝙖𝙝𝙢𝙖𝙩 𝘿𝙖𝙢𝙖*

Read More

Bagi masyarakat Kota Bitung, Maurits Mantiri adalah sosok yang memiliki nilai popularitas yang tinggi. Maurits Mantiri mendapat mandat mayoritas masyarakat Kota Bitung sebagai Walikota, dan bersama dengan Hengky Honandar sebagai Wakil Walikota memimpin jalannya roda pemerintahan.

Dalam kepemimpinannya Maurits Mantiri banyak memberikan ungkapan kata yang mengandung makna filosofis yang tinggi, seperti; bukan saya tapi kami, buat mereka tersenyum, kerja malendong, kerja dengan cinta jauhi kebencian, dan lain sebagainya.

Ungkapan – ungkapan 𝘲𝘶𝘰𝘵𝘢𝘣𝘭𝘦 yang diucapkan Maurits Mantiri sangat digemari dan dipahami sebagai hal yang memiliki nilai positif oleh masyarakat Kota Bitung.

Berangkat dari catatan di atas, penulis dalam tulisan ini akan mencoba memberikan interpretasi tentang dasar ideologi yang dimiliki Maurits Mantiri dalam beberapa kebijakan yang penulis perhatikan.

𝗛𝘂𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀𝗺𝗲

Humanisme dapat dipahami sebagai suatu pemikiran yang menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik.

Seorang humanis adalah seorang yang peduli pada kebaikan untuk kemanusiaan. Seorang humanis memiliki keinginan, semua orang mendapatkan makanan, tempat tinggal, dan martabat yang cukup.

𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗛𝘂𝗺𝗮𝗻𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗼𝘁𝗮 𝗕𝗶𝘁𝘂𝗻𝗴

Jika kita memperhatikan beberapa kebijakan Pemerintah Kota Bitung, seperti pengadaan taman lansia, respon cepat terhadap bencana, sampai dengan menyediakan sarana pengungsian untuk korban bencana dari kota/kabupaten lain, semuanya adalah dasar kebijakan yang mengandung unsur humanisasi (memanusiakan manusia).

Sebagai putra kelahiran Kota Bitung yang berdarah Minahasa, tentu Maurits Mantiri sangat memahami filosofi hidup masyarakat Sulawesi Utara. Sitou timou tumou tou (manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain).

Bahkan Maurits Mantiri dalam jejak kehidupannya terbukti memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi, pergaulannya yang luas, sampai menyentuh kalangan bawah adalah realitas hidup yang bukan sekedar agenda politik belaka.

Dari pengalaman Maurits Mantiri yang memulai kehidupannya dari kalangan masyarakat bawah, menjadikan Maurits Mantiri memiliki kepekaan yang tinggi tentang penderitaan masyarakat kalangan bawah.

Dari fakta yang dapat penulis uraikan di atas, bukan sesuatu yang berlebihan jika penulis menarik kesimpulan bahwa Maurits Mantiri layak mendapatkan predikat, sang humanis dari kota Bitung. Kesimpulan ini berdasar pada realitas hidup yang di lewati, dan implementasi kebijakan yang telah dilaksanakan Maurits Mantiri.

*𝘞𝘢𝘬𝘪𝘭 𝘚𝘦𝘬𝘳𝘦𝘵𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘉𝘪𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘏𝘶𝘬𝘶𝘮, 𝘏𝘈𝘔, 𝘥𝘢𝘯 𝘈𝘥𝘷𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘗𝘋 𝘗𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥𝘪𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘰𝘵𝘢 𝘉𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨

(***)

Related posts