Potensi Adjectival Tourism “Menanti Purnama di Malam Paskah”

 

Catatan:

Teddy Tandaju, SE., MBA (Adv.)

Business Coach & Dosen Prodi Manajemen, Unika De La Salle Manado

 

TAK terasa kembali lagi umat Kristiani menapaki Tri Hari Suci yang dimulai dengan Perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, dan hari Paskah.

Moment ini sangat terasa di wilayah Kota Manado yang mayoritas penduduknya beragama Nasrani.

Kota Manado yang sangat identik dengan slogan ‘torang samua basudara’ merupakan kota yang mendapat julukan salah satu kota bertoleransi tinggi dalam kehidupan bermasyarakatnya.

Selain pesona wisata bahari, Pulau Bunaken, Siladen dan Manado Tua, Kota Manado yang merupakan ibu kota Provinsi Sulawesi Utara memiliki potensi wisata religi yang sangat besar.

Moment perayaan Paskah yang dimulai dengan masa Pra-Paskah merupakan saat yang cukup memiliki potensi dalam menaikkan kunjungan turis nusantara maupun manca negara ke Minahasa.

Mengapa demikian, selang dua dekade ini, tanah Minahasa telah gencar memulai suatu cara atau tradisi baru dalam merayakan masa Paskah terlihat dari berbagai denominasi kristiani yang melakukan beragam kegiatan gereja baik dalam bentuk lomba olahraga, seni, pawai dan lain-lain.

Yang paling menarik perhatian adalah dibangunnya miniatur taman Paskah yang menampilkan beragam suasana perjalanan Yesus Kristus selama Pekan Suci yang dimulai pada perayaan Minggu Palma.

Tentunya, moment Paskah ini merupakan suatu daya tarik atraksi wisata alternatif yang sangat potensi dalam mendatangkan turis lokal, national maupun international.

Alternatif wisata masa Paskah di tanah Minahasa memiliki rentang waktu yang cukup lama untuk dinikmati dimulai sejak perayaan Rabu Abu dan akan berakhir seminggu setelah hari Paskah bahkan ada istilah Paskah Kedua yang jatuh pada hari berikutnya.

Saya menaruh rasa kagum yang tinggi atas kreatifitas jemaat dan umat wilayah rohani yang begitu antusias mendekorasi miniatur taman Getsemani, bukit Golgota, kubur dan replika Yesus beserta para rasul yang diadaptasi dari cerita kitab suci.

Sungguh suatu pemandangan yang sangat indah apalagi dilihat pada malam hari. Beberapa taman paskah memancarkan sinar lampu warna-warni yang sangat menawan.

Jelas inilah moment dan saat yang dapat dipromosikan untuk menjadi suatu wisata religi yang sungguh kreatif. Moment ini adalah event tahunan yang tidak dapat dijumpai di sebagian besar wilayah Indonesia, hanya di daerah tertentu; dan kebetulan di tanah tercinta kita, Minahasa dapat dijumpai di banyak lokasi.

Ada baiknya, pemerintah, pemerhati wisata, seluruh pemangku kepentingan wisata baik swasta maupun non-swasta memberikan perhatian khusus untuk hal ini.

Banyak potensi wisata yang dapat diangkat sebagai ‘Adjectival Tourism’ dari wilayah kita agar para turis tidak hanya ke Bunaken saja jika harus travelling ke Kota Manado.

Sebaiknya kreatifitas jemaat seperti dalam masa Paskah ini dipergunakan pemangku kepentingan sebagai ajang ‘Visit tanah Minahasa – special Easter time’ karena banyak atraksi menarik dan kreatif dapat dinikmati.

Hal spektakuler yang dapat menjadi puncak daya tarik wisata masa Paskah ini yakni saat memasuki Tri Hari Suci.

Para turis pasti akan terkesima dengan penuh sesaknya gereja saat perayaan Kamis Putih, Jumat Agung, Vigili Paskah dan Paskah karena hal ini sangat jarang terjadi di negara lain.

Ribuan umat dan jemaat akan membanjiri gereja saat Tri Hari Suci.

Inilah keunikan Minahasa yang wajib ditonjolkan dan menjadi kebanggan ‘torang samua’.

Potensi adjectival tourism ini dapat menjadi suatu bentuk ‘Community Based Tourism’ yang bercirikan kearifan lokal tanah Minahasa.

Bukan hanya itu saja, perhatikan bagaimana para umat kristiani merayakan Paskah saat ke gereja!

Sudah menjadi tradisi mereka akan mengenakan gaun atau pakaian khusus untuk merayakan hari kemenangan mereka.

Saya pernah beberapa waktu tinggal di luar negeri dan memperhatikan cara berpakaian jemaat ke gereja saat Paskah hanyalah biasa saja, bahkan ada yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong.

Perhatikan umat kristiani Minahasa saat mereka ke gereja, kita bisa melihat sejenis ‘Fashion Show’ saat ibadah ataupun misa Paskah.

Lebih dari itu, beberapa wilayah akan mempersiapkan beragam kuliner ciri khas lokal bercita rasa khusus, kesemuanya terangkum dalam Wisata Kuliner.

Perlu dicatat, bahwa tiap malam Paskah, akan terlihat fenomena alam yakni Bulan Purnama. Mengapa kita tidak memanfaatkan moment ini dan mencontoh komunitas warga Tionghoa yang menyelenggarakan ‘Mooncake Festival?’.

Kesemuanya ini dapat terjadi dalam rangkaian perayaan Paskah yang sangat layak menjadi Mixed and Integrated Tourism (Pariwisata campuran yang terintegrasi).

Untuk itu, perlu diadakan kerjasama dengan berbagai stakeholder baik lokal, nasional maupun luar negeri guna menunjang program wisata religi ini tanpa mengesampingkan peran penting strategi komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien dalam menyebarkan informasi dan menjangkau target pasar.

Saya yakin dan pastikan wisata alternatif ‘Masa Paskah di Tanah Minahasa’ akan sangat berpotensi mendatangkan turis lokal, nasional maupun international.

Mari kita warga Minahasa turut berperan aktif dalam mensukseskan event tahunan ini yang sudah pasti akan membentuk new branding bagi Kota Manado khususnya dan Minahasa pada umumnya.

(***)

Pos terkait