๐๐ก๐๐: ๐๐ค๐ซ๐๐๐ฃ๐ฉ๐ค ๐๐ค๐ฅ๐๐ฉ*
Sudah sewajarnya seorang politisi, memiliki lawan politik. Pada umumnya lawan politik berasal dari kelompok atau partai yang memiliki kecenderungan pada dukungan politik yang bersebrangan.
Melihat dinimika politik kota Bitung, “sang pelayan rakyat” Walikota Bitung, Maurits Mantiri (Om Kumis). Seakan menghadapi gempuran dari dalam dan luar pemerintahan.
Dari dalam pemerintahan, Om Kumis mendapatkan serangan dari “musuh dalam selimut” yang bergerak dengan senyap. Mereka adalah:
Pertama; sebagian ASN yang merasa tidak mendapat jabatan politik yang strategis
Kedua; sebagian THL yang terprovokasi oleh hasutan kelompok ๐ฉ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ๐ด Om Kumis.
Mereka secara sembunyi – sembunyi bertugas, “menikam dari belakang”.
Dari luar pemerintahan, Om Kumis di serang habis – habisan oleh sekelompok orang yang memiliki kecenderungan mengsuksesi lawan politik Om Kumis, jika Om Kumis kembali dicalonkan sebagai Walikota Bitung. Mereka adalah:
Pertama; kelompok yang kalah dalam Pilkada Kota Bitung Tahun 2020;
Dan Kedua; kelompok yang keluar dari barisan pendukung MMHH yang mungkin saja, karena merasa tidak lagi mendapatkan manfaat seperti awal periode, tidak lagi mengemban suatu jabatan dalam pemerintahan, atau tidak mendapatkan jata proyek.
Mereka membentuk suatu barisan yang bertugas, “menembak dari depan”.
๐ ๐ฒ๐ป๐ถ๐ธ๐ฎ๐บ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป๐ด
Menikam dari belakang, adalah ungkapan untuk sang munafik bermuka dua.
Mereka melakukan gerakan senyap, seperti memberikan informasi pengeluhan mereka, dan informasi penting dalam pemerintahan kepada narator dari kelompok yang kontra Om Kumis.
Cara seperti ini adalah cara yang sangat absurd, untuk dilakukan orang – orang yang menjadi pelayan masyarakat.
Pertanyaannya, apakah orang – orang yang jadi tempat mereka mengeluh akan memberikan solusi?
Sejauh ini tidak ada ide dan gagasan yang mereka berikan untuk menemukan solusi, yang ada hanyalah membuat suasana dalam pemerintahan menjadi gaduh. Cara seperti ini bukanlah cara yang solutif.
๐ ๐ฒ๐ป๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ธ ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ป
Menembak dari depan adalah ungkapan dari gerakan melakukan provokasi lewat Sosial Media (Sosmed). Terakhir kali, terlihat sang narator mereka mulai memprovokasi agar ASN/THL turun untuk melakukan unjuk rasa.
Jika unjuk rasa ini benar terjadi, maka masyarakat bisa merasakan secara langsung bagaimana dampak dari langkah provokatif yang mereka lakukan.
Jangan sampai sebagian ASN/THL katakanlah, yang paling banyak terpengaruh dengan provokasi mereka adalah 10% dari jumlah keseluruhan ASN/THL, maka gerakan mereka ini akan berdampak, terhadap:
Pertama; ketidaknyamanan pada 90% ASN/THL, yang memiliki semangat untuk terus melakukan pelayanan kepada masyarakat.
Kedua; masyarakat yang ingin mengurus sesuatu dan lain hal yang dalam kewenangan pemerintahan, akan terhambat mendapatkan pelayanan akibat dari kegaduhan yang mereka buat dan mereka ciptakan.
Pada akhirnya, jika kita berbicara tentang sebuah tuntutan, apalagi yang berkaitan dengan hak dan kewajiban adalah sah – sah saja.
Masalahnya adalah, ketika tuntutan akan hak dan kewajiban menjadi alat yang digunakan (ditunggangi) oleh sekelompok orang untuk mencapai syahwat politik mereka.
(***)
*Aktivis muda dan pemerhati politik Kota Bitung