Sampah dan Vandalisme Ancam Wisata Alam di Sulut

Bitung, VivaSulut.com – Sampah dan praktek vandalisme menjadi ancaman serius bagi spot-spot pariwisata alam di Sulawesi Utara (Sulut).

Dua tindakan itu menjadi hiasan setiap spot wisata alam, termasuk wisata gunung tidak lepas dari sampah dan vandalisme yang dilakukan para pengunjung.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulut, Yakub Ambagau saat menjadi pemateri di Pelatihan Pemandu Wisata Gunung Dinas Pariwisata Kota Bitung, Rabu (17/4/2024).

“Praktek ini muncul karena perilaku atau karakter pengunjung sangat minim dan itu terjadi hampir di seluruh wisata alam di Indonesia, termasuk di Kota Bitung,” kata Yakub.

Ia mencotohkan salah satu spot di lokasi wisata Batuangus, yakni Rumah Pohon yang kini penuh dengan vandalisme serta sempah. Bahkan Yakop mengaku beberapa kali melihat dengan mata kepala sendiri tindakan wisatawan melakukan aksi vandalisme di spot menikmati keindahan alam Batuangus itu.

“Saya coba edukasi dengan menanyakan tujuan vandalisme di rumah pohon. Tapi, balik lagi itulah karakter kita dan sudah terkenal di dunia. Namanya wisatawan Indonesia, pasti dikenal dengan perusak,” katanya.

Yakob berharap, lewat pelatihan Pemandu Wisata Gunung, ancaman sampah dan vandalisme bisa diminimalisir demi melestarikan spot-spot wisata alam.

“Saya berharap, pemandu wisata gunung pro aktif memberikan edukasi agar pratek sampah dan vandalisme bisa dihilangkan,” katanya.

Selain itu, dalam meterinya, Yakob juga membeberkan regulasi dan ketentuan dalam menikmati suatu kawasan konservasi. Seperti empat kawasan gunung yang masuk dalam kawasan konservasi BKSDA Sulut, yaitu Gunung Duasudara, Gunung Puncak Kecil Duasudara, Gunung Tangkoko dan Gunung Bota/Batuangus.

“Dari keempat gunung di kawasan ini, hanya satu gunung yang bisa didaki oleh wisatawan, yakni Gunung Bota/Batuangus, karena gunung ini masuk dalam wilayah Taman Wisata Alam (TWA) sementara tiga gunung lainnya berada di wilayah Cagar Alam,” katanya.

“Tiga gunung lainnya bisa didaki tapi hanya untuk kepentingan penelitian dan lainnya,” sambungnya.

(redaksi)

Pos terkait