Kotamobagu, VivaSulut.com – Di sebuah sudut Kota Kotamobagu, kebaikan kerap hadir tanpa suara. Tanpa panggung, tanpa kamera, tanpa tepuk tangan. Kebaikan itu mengalir pelan melalui sosok seorang pengusaha lokal, Norma Ali Paputungan.
Bagi sebagian orang, namanya mungkin tak banyak dikenal. Namun bagi anak-anak yatim dan warga kurang mampu di sekitar tempat tinggalnya, kehadiran Norma menjadi penopang harapan di tengah kehidupan yang penuh keterbatasan.
Dengan kesederhanaan, Norma rutin berbagi rezeki. Bentuknya beragam, mulai dari kebutuhan pokok, pakaian, hingga bantuan uang tunai untuk kebutuhan sehari-hari. Tak jarang, ia mendatangi langsung rumah-rumah warga yang membutuhkan tanpa didahului pemberitahuan.
“Beliau tidak pernah ingin dikenal. Setiap kali berbagi, beliau hanya bilang ini rezeki dari Allah untuk kita semua. Orangnya sangat rendah hati,” ungkap Sofian, salah satu warga penerima bantuan.
Di tengah zaman ketika kebaikan sering dipublikasikan, Norma justru memilih jalan sunyi. Baginya, berbagi adalah bentuk ibadah sekaligus wujud kepedulian antarmanusia, bukan ajang mencari pengakuan.
Aksi sosial itu dilakukan tanpa acara besar dan tanpa dokumentasi. Namun dampaknya nyata. Bantuan kecil yang diberikannya kerap menjadi penyambung hidup bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi.
Di Kotamobagu, kisah Norma Ali Paputungan menjadi pengingat bahwa kebaikan tak selalu hadir dengan suara keras atau sorotan kamera. Ia tumbuh dalam langkah-langkah sunyi, menyelinap ke rumah-rumah sederhana, dan hidup di senyum mereka yang merasa tak lagi sendiri. Mungkin tak banyak yang mengenal namanya, namun bagi anak-anak yatim dan warga yang pernah ia genggam harapannya, kebaikan Norma akan selalu tinggal—sebagai doa-doa yang mengalir diam-diam, bahkan ketika ia memilih terus berjalan dalam sunyi.
(Dayat)





