Inspiratif! Kisah Ali, Imigran Asal Afghanistan Kini Tempuh Jenjang Double Degree di UICI

Kisah Ali yang inspiratif, seorang mahasiswa asal Afghanistan yang saat ini kuliah neuropsikologi di UICI.

Jakarta, VivaSulut.com – Bagi masyarakat Sulawesi Utara, nama Ali (29) seorang imigran asal Afghanistan, mungkin terdengar familiar.

Kisah hidupnya sungguh inspiratif, menggambarkan sosok anak muda yang pantang menyerah ketika menjadi korban konflik berkepanjangan di negaranya dan harus meninggalkan kampung halamannya.

Bacaan Lainnya

Sebelum 15 tahun terakhir menetap di Manado, Sulawesi Utara, ia dan orang tua serta pamannya sempat menetap di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Kondisi negara asalnya yang bergejolak karena perang adalah alasan ayah serta pamannya setuju untuk pindah ke Australia.

Sayangnya, karena Ali dan pengungsi lainnya kala itu berada di kapal yang rusak, mereka akhirnya harus berlabuh di pesisir Tongo di Sumbawa.

Meski harus bertahan jauh dari rumah, namun, tekad untuk bertahan hidup dan dukungan masyarakat sekitar membuatnya bertahan, dan bahkan serius untuk menggali potensi akademiknya.

Pada 2019 silam, Ali lulus sebagai Sarjana Arsitektur dari perguruan tinggi negeri terbaik di Sulawesi Utara, yakni Universitas Sam Ratulangi.

Selama menjadi mahasiswa, Ali juga aktif dalam kegiatan ekstra. Ali pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manado periode 2023-2024.

Seolah tak ingin berhenti menggali ilmu, Ali memutuskan ingin menambah predikat akademiknya atau menempuh sekali lagi jenjang sarjana agar dapat double degree.

Ali mendaftar ke Universitas Insan Cita (UICI) dan menjadi salah satu mahasiswa jurusan Neurospsikologi di UICI pada 2022 silam.

Saat diwawancarai pada Senin (18/2/2025), Ali menceritakan bagaimana awal mula dirinya tertarik untuk bisa kuliah di UICI.

UICI merupakan institusi yang dibangun atas gotong royong Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHM) serta keluarga besar HMI.

Sesuai namanya, UICI diharapkan menjadi lokomotif untuk membangun sumber daya manusia yang sesuai dengan semangat insan cita.

UICI menjadi universitas digital pertama di Indonesia, yang menawarkan kemudahan, fleksibilitas, dan jurusan-jurusan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Bagi Ali, fleksibilitas yang ditawarkan UICI ini tak ingin disia-siakannya. Ia tetap ingin mendapatkan ilmu dan wawasan baru, meski di tengah kesibukannya mencari nafkah sebagai wirausahawan untuk anggota keluarganya di Manado.

Sejak ayahnya meninggal, Ali harus banting tulang untuk bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Usahanya begitu keras. Sampai akhirnya memilih kuliah yang lebih mudah dan praktis, namun tetap berkualitas seperti di UICI ini.

“UICI bagi saya kampus digital yang begitu praktis. Di era yang serba menghimpit ini, saya harus terus bekerja di Manado. Tapi, ingin tetap menimba ilmu. Sehingga, saya terpikir untuk memilih UICI sebagai tempat melanjutkan perkuliahan saya. UICI menyajikan pengalaman belajar serba digital, bahkan tidak pernah saya pikirkan sebelumnya,” tutur Ali.

“Yang jauh bisa mendekat, bersama-sama menunaikan kewajiban dalam menimba ilmu. Tidak sekadar itu, UICI dengan pelayanannya yang serba digital, membuat saya lebih fleksibel dalam belajar. Kuliah dari mana saja, kuliah sambil kerja pun bisa,” jelasnya.

Ali bekerja sebagai pengusaha tanaman hidroponik, arsitek dari ilmu sebelumnya yang telah diraihnya, ia juga bahkan mencari nafkah dengan ojek online.

Selain itu, ia juga mengabdikan diri sebagai guru bahasa Inggris sukarela di sebuah sekolah di Manado. “Di UICI, saya bisa mengatur jadwal belajar sesuai dengan kebutuhan saya, memungkinkan saya untuk mengimbangi antara pendidikan dan kegiatan lainnya,” tuturnya.

Ia pun menyebut saat waktu terbaiknya untuk belajar ketika malam hari, saat seluruh rutinitasnya sebagai pekerja selesai. Ali akan membuka Artificial Intelligence (AI Class) untuk mengerjakan tugas-tugas yang sudah diberikan oleh dosen mata kuliahnya. Termasuk membaca modul-modul yang sudah tersedia dalam bentuk digital.

Bahkan saat ada nilai yang masih perlu diperbaiki, Ali akan terus berupaya berkali-kali untuk bisa memperbaikinya. “Nilai yang baik bisa saya dapatkan saat selalu konsisten dengan proses kuliah dan proses memasukan tugas dan mengikuti ujian tentunya,” katanya.

Pemuda kelahiran, Suriah, 3 Juli 1995 ini, memilih jurusan Neuropsikologi di UICI. Meski nampak jauh hubungannya dengan latar belakang pendidikannya sebagai arsitektur, namun Ali memiliki pandangan lain.

Saat duduk di bangku kuliah arsitek, ia sempat mempelajari mata kuliah psikologi arsitektur. Materi pembelajaran tersebut begitu disukainya, ia melihat adanya hubungan yang tak bisa terlepaskan antara kondisi jiwa arsitektur dengan karya denah atau gambar yang dibuat.

“Saya berpikir bahwa bagaimana sebuah bangunan yang saya desain mempu memberikan dampak baik secara psikologi manusia. Bangunan saya desain seharusnya memiliki dampak psikologi yang baik pada pengguna bangunan tersebut. Mulai dari warna bangunan, letak antar ruang dan bentuk desain bangunan yang mampu memiliki kenyamanan kepada pengguna,” jelasnya.

Menurutnya, ilmu neuropsikologi justru dibutuhkannya untuk mampu bekerja dalam keseimbangan jiwa.

Di mana, seorang arsitek bukan hanya berpikir tentang seni dalam mendesain bangunan, tapi juga kenyamanan psikologi pada pengguna bangunan itu sendiri.

“Saya ingin mengembangkan ilmu Psikologi Arsitektur, yang mampu menjawab kaitan antara psikologi manusia terhadap bangunan,” tuturnya.

Sejauh ini, Ali sudah menjalani proses belajar di UICI selama 2 tahun 6 bulan. Ia masih membutuhkan beberapa bulan lagi agar menuntaskan perkuliahannya dan mendapat gelar barunya.

Ia bertekad untuk terus berkontribusi terhadap kampus UICI dan mampu membanggakan banyak orang atas pencapaiannya di masa depan.

Terlebih saat ini, manusia saling berkompetisi dan bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

“Saya ingin mengembangkan pemikiran Psikologi Arsitektur di dalam dunia nyata. Yang di mana setiap bangunan yang saya gambar memiliki penguatan keilmuan dari dua jurusan yang saya sedang dalami,” tuturnya.

Sementara itu, Ali juga menaruh harapan untuk Dies Natalis kampus tercintanya UICI 24 Februari 2025 mendatang. Ia berharap dapat bisa terus memberi ruang belajar praktis dan berkualitas seluruh muda mudi di Indonesia.

“UICI selalu menjadi kampus kebanggaan HMI, KAHMI dan kampus masa depan Indonesia. Tetap selalu memberi ruang belajar untuk seluruh anak–anak Indonesia.

(*/Dayat)

Pos terkait