Bitung, VivaSulut.com – Aksi yang dilakoni kru KM Tude beberapa waktu lalu terkait tuntutan hak yang belum dirampungkan hingga kini menyita perhatian publik.
Pasalnya, tuntutan itu selalu mencuat disaat ada pergantian atau kebijakan baru manajemen Perumda Bangun Bitung yang menjadi pengelola KM Tude.
Dari penelusuran sejumlah media, tuntutan kru KM Tude itu bukanlah hal baru tapi “dosa lama” atau warisan dari manajemen lama yang selalu disuarakan disaat muncul kebijakan Perumda yang “mengusik” para kru.
Dosa lama itu adalah sisa gaji dan tunjangan hari raya (THR) di tahun 2023 belum membayar. Kendati sudah ada kebijakan Perumda dengan membayar dengan cara menyicil, namun dosa lama ini selalu mencuat di momen-momen tertentu.
Dan rupanya, masih menggunakan isu yang sama, dalam waktu dekat ini dikabarkan kru KM Tude akan kembali mengulangi aksi dengan tuntutan sisa gaji dan THR 2023 segera diumumkan tanpa mempertimbangkan dampak pelayanan peyebrangan masyarakat Pulau Lembeh saat aksi itu digelar.
Namun dibalik rencana aksi menghancurkan itu, terungkap jika hampir setiap termin di tahun sebelumnya pengelolaan KMP TUDE selalu merugi. Terdeteksi, ada beberapa angkutan yang tak bayar atau diloloskan hingga berimbas paa pengurangan subsidi.
Bahkan, pada Februari 2024, ada sekitar Rp43 juta temuan dari kendaraan yang diloloskan dan ditengarai praktik ini dilakoni sejumlah oknum krue KM Tude.
Dugaan kuat praktik ini sudah berlangsung lama, buktinya dari tahun-tahun sebelumnya hingga Februari 2024 dari hasil audit, pemerintah pusat harus memangkas subsidi KM Tuder sebesar Rp108 jutaan akibat “kebocoran” jumlah kendaraan tanpa membayar tarif.
Permasalahan carut-marut pengelolaan KM Tude ini tidak ditampik Direktur Umum dan Keuangan PD Bangun Bitung, Devan Pesak. Ia mengaku saat ini manajemen tetap berkomitmen untuk menuntaskan kewajiban yang mendesak berdasarkan skala prioritas pengambilan dana.
Termasuk, kata dia, pembayaran sisa gaji dan THR kru tetap akan dibayar dengan mengikuti termin dan kebijakan itu sudah diketahui para kru serta sudah sementara berjalan.
“Pembenahan sementarara dilakukan. Saat ini kami normalkan secara keseluruhan dulu. Sisa gajinya, kami akan bayarkan secara bertahap,” kata Deven, Selasa (23/4/2024).
Terkait temuan kerugian KM Tude setiap termin, Deven juga tidak menampiknya. Ia bersama manajemen mengaku kaget dengan jumlah pemotongan subsidi yang jumlahnya cukup besar karena adanya praktik meloloskan kendaraan tanpa membayar tarif tapi masuk dalam data manifest.
“Kami saat ini sementara melakukan investigasi secara internal. Yang pasti ada beberapa temuan yang kami dapatkan. Jika sudah ada hasilnya akan disampaikan ya,” katanya.
( redaksi )